AGAMA ISLAM MENYEBAR DI TANAH MANDAR
        Kekeramatan yang dimiliki oleh kedua murid Tuan di Binuang ini membuat rakyat Binuang semakin takjub serta segan kepada mereka. Kedua murid plus muballigh ini membuat Tuan di Binuang mengajarkan agama Islam di sekitar Kerajaan Binuang. Sementara Tuan Binuang sendiri melanjutkan risalah Islam di Negeri Balanipa dan sekitarnya.
        Secara formal, pengembangan Islam di tanah Mandar dimulai dari negeri Binuang pada awal abad 17 dengan dua macam pengembangan. Pertama, Syekh Abdurrahman Kamaluddin atau To Salama di Binuang menyiarkan agama Islam di Binuang kemudian menyebarkan ke daerah sekitarnya seperti Allu, Palili serta sebagian besar Banggae.
        Sekitar tahun itu pula, Beliau mendirikan Pesantren dan Masjid sebagai Pusat Pendidikan Agama Islam di sebuah Pulau yang disebut Tangnga-Tangnga. Ketika itu, beliau mengumpulkan sebanyak 40 pemuda dari kalangan muridnya untuk dididik khusus.
        Menurut Sejarah, Raja Balanipa yang pertama kali memeluk Islam adalah daetta Kanna I Pattang atau biasa disebut dengan Daetta Tommuane.
        Dengan masuknya daetta I Kanna Pattang, maka serentak seluruh rakyat Balanipa juga ikut menyatakan ke-Islaman mereka.
        Kedua, agama Islam datang dari Kalimantan dan menuju ke Sendana dan Pamboang. Risalah Islam ketika itu dibawa oleh ‘Ikapuang Jawa’ yang kemudian dikenal dengan nama Raden Mas Arya Suriodilogo, lalu muncul Sayyid Zakariah Al Magriby membantu dan sama menyiarkan Islam di negeri Pamboang.
        Raja Pamboang atau Maraqdia Pamboang yang pertama memeluk agama Islam adalah Tomatindo di bo’di. Sedangkan di negeri Banggae, Maraqdia Tondo atau Tomatindo di Masigi merupakan Raja pertama kali menganut Islam. Penyebarnya yaitu Syekh Abdul Mannan yang di gelar ‘Tuan di Salabose’.
Di pitu Ulunna salu, penganjur Islam bernama Tuan di Bulo-Bulo. Indo Kadanene yang pertama kali masuk Islam ialah Todilamung Sallan. Ke-Islaman Indi Kadanene ini kemudian diikuti oleh Indo Lembang, Tomakaka Mambi serta Maraqdia matangnga. Sedangkan di Campalagian atau Tomadio, penganjurnya Tomatindo di Dara’na sendiri, penyebarnya bernama tuan di tanase.
WAFATNYA TUAN DI BINUANG
Setelah kurang lebih 40 tahun menyebarkan agama Islam di Balanipa dan Binuang, Tuan di Binuang akhirnya memutuskan untuk beristirahat di Negeri istrinya di Binuang. Akan tetapi keinginannya untuk menyebarkan agama Islam tidak terputus begitu saja, sebab jika ada daerah yang menbutuhkannya, beliau akan selalu siap membantu. Setelah 5 yahun beristirahat di Binuang tepatnya di Pananian, akhirnya beliau pun dipanggil menghadap ke hadirat Ilahi.
Konon, sewaktu keranda Jenazah beliau hendak diusung menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir, orang-orang yang akan mengusung keranda Jenazah tersebut tidak dapat mengangkatnya, jangankan terangkat goyangpun tidak.
Orang-orangpun menjadi bingung, tak tahu mesti berbuat apa agar keranda jenazah beliau bias diangkat. Tiba-tiba seseorang diantara mereka berkata, “saya baru ingat, kalau beliau pernah berwasiat, dan wasiat itu harus disampaikan ke khalayak umum. Wasiatnya seprti ini, ‘jika besok atau lusa saya tutp usia, tempatkan saya di salah satu pulau di Binuang ini,’.
Setelah mengucapkan wasiat tersebut, keranda jenazah beliau dengan sendirinya berjalan ke tepi pantai. Setelah sampai di tepi pantai, keranda itu kemudian meluncur menuju ke sebuah pulau yang dikenal sebagai ‘Pulo Karamasang’. Akan tetapi keranda Jenazah beliau tersangkut di sela-sela cabang pohon Bakau.
Rombongan pengantar Jenazah yang sedari tadi ‘mengejar’ keranda jenazah beliau ini kemudian berusaha mengeluarkan dari jebakan cabang pohon bakau, namun seperti kejadian semula, keranda jenazah beliau kembali tidak bisa digoyang walau sekuat apapun tenaga mereka. Karena hari menjelang malam. Rombongan terpaksa pulang ke kampung masing-masing.
Beberapa hari kemudian mulai tersebar berita mengenai beberapa keanehan Pulau Karamasang. Perahu yang dipakai nelayan atau para pedagang yang melewati Pulau Karamasang ini seakan-akan hanya berputar-putar. Malah dari mereka ada yang hanya melihat daratan di sekelilingnya.
Kurang lebih setahun sejak wafatnya Tuan di Binuang, masyarakat setempat sudah tidak pernah lagi melihat keranda jenazah beliau. Ada yang menduga bahwa mungkin peti itu terjatuh akibat terpaan angin dan terbawa oleh arus laut.
Menurut keterangan Imam Pulau Tangnga, Yusuf Tikadang, bahwa dari cerita rakyat secara turun temurun, ketika itu arus kotoran dari Binuang selalu menuju ke Pulau Karamasang dan menyentuh pohon bakau tempat dimana keranda jenazah tuan binuang pernah tersangkut.
Kemudian setelah itu seorang pencari kayu bakar menemukan sebuah keranda jenazah yang diyakini sebagai keranda jenazah tuan di binuang di atas bukit kecil. Pernah juga ada salah satu warga yang bermimpi, bahwa keranda jenazah yang ditemukan oleh pencari kayu itu merupakan pindahan dari pohon bakau di Pulo Karamasang. Dengan demikian masyarakat Binuang semakin mempercayai cerita ini.
Konon beberapa bulan kemudian, keranda jenazah tersebut menghilang dari Pulo Karamasang, akan tetapi pada saat bersamaan muncul sebuah batu nisan yang diyakini sebagai nisan Tuan di Binuang.
Sampai saat ini, nisan yang telah menjadi makam tersebut masih dipelihara baik oleh masyarakat yang bermukim di Pulo Tangnga-Tangnga bahkan pengunjungnya atau peziarahnya selalu ramai setiap saat.
Demikianlah akhir dari hikayat To Salama di Binuang, kisah tentang seorang ulama besar kharismatik pada zamannya ini akan selalu abadi di dalam sanubari masyarakat Mandar.
 

Komentar

Postingan Populer